Jendela Wanita

Perlukah menikah jika menjadi penghibur lebih nyaman

0

Andaikan waktu bisa dikembalikan. Mungkin diriku tidak seperti sekarang ini. Harus berpeluh keringat di siang hari. Menjajakan dagangan sebagai SPG.

Semua ini gara gara ketololanku mengambil langkah. Sampai akhirnya kini hidupku sungguh menderita.

Berawal dari pernikahanku dengan Andi. Dua anak telah mewarnai rumahtangga kami. Selama ini meski ada masalah masih bisa diatasi bersama.

Namun puncaknya gara gara masalah uang. Mantan suamiku berutang tanpa ku ketahui. Dan akhirnya karena tidak sanggup bayar, aku yang ditagih untuk melunasi utang Andi.

Aku begitu beringas pada Andi. Pikiranku waktu itu. Lebih emosional menghadapinya. Sehingga memilih berpisah. Termasuk mengurus tanggungjawab dan resiko sendiri dengan usaha masing-masing.

Kami memiliki usaha dan pendapatan masing-masing, dari bisnis warung kelontong. Namun usahaku lebih sukses, dan mendulang limpahan rejeki setiap harinya.

Sukses usaha yang kulakukan. Bertolak belakang dengan usaha suami. Sampai mantan suamiku berutang 15 juta pada temannya. Selain itu juga berutang pinjol lumayan besar jumlahnya.

Kutanyakan alasan uang 15 juta yang dipinjam ke temannya. Tapi Andi tidak menjelaskan alasannya pinjam uang. Begitu juga dengan penggunaan utang di tempat lainnya.

Sampai akhirnya warung yang dikelolanya bangkrut. Disinilah emosiku tak terbendung. Dan aku ,memilih pulang ke rumah orangtua.

Suatu saat mantan suami, pamit mau cari kerjaan di kota lain. Untuk membayar utang – utangnya. Hanya saja dia bilang, selama bayar cicilan utang. Kehidupan anak anak dan aku, dimintanya aku yang tangani dulu. Sampai utangnya beres semua.

Aku begitu jengkel dan sakit hati. Ribut besar tak terelakkan. Sampai dia pergi meninggalkan rumah. Setelah aku memutuskan bercerai darinya.

Sesal sesaat yang kurasakan saat bercerai dengannya. Jadi cerai buatku meski menyakitkan. Namun waktu itu, lebih baik daripada menjalani pernikahan sakit bersamanya.

Meski sudah cerai. Namun utang utangnya terpaksa aku selesaikan. Karena mereka menagih ke rumahku. Setelah mantan suami tidak dapat dihubungi lagi.

Pernikahan Kedua

Gagal di pernikahan pertama. Juga terjadi di pernikahan keduaku. Kali ini. Kembali terulang ketololanku.

Semestinya tidak perlu masuk ke jurang untuk kedua kalinya. Tapi jurang di pernikahan kedua ini. Lebih menyadarkan diriku dari ketololanku.

Aku tersadar telah begitu tolol. Mau menerimanya Pray sebagai suami. Padahal pengalamanku pernah berumahtangga, semestinya menjadi pelajaran untuk lebih hati hati melangkah jika kembali menikah.

Seperti dibutakan cinta dan napsu. Aku menikah dengan penjudi online. Sampai semua uang dan hartaku ludes. Karena terbuai dengan rayuannya.

Barulah setelah aku tidak memiliki apapun. Suami kedua meninggalkan ku tanpa ada beban. Sehingga kembali cerai untuk kedua kalinya.

Berbagai Pelukan

Aku begitu terpuruk saat ini. Aku begitu menderita dengan hidup ini. Aku harus bangkit. Meski harus dari nol besar. Dan semangat hidupku sangat lemah sekali.

Tapi aku tidak ingin membiarkan kedua anak dari pernikahan pertamaku menderita. Aku mengambil keputusan. Anak bungsu kutitipkan pada orangtuaku. Sementara anak sulung lebih memilih tinggal bersama Andi.

Disinilah petualangan hidupku bermula. Dari tidak mengenal pelukan lelaki lain selain suami. Kini harus kujalani menerima pelukan berbagai laki, demi lembaran uang buat kebutuhan hidup.

Aku harus melakukannya. Karena pendapatan menjadi SPG tidak seberapa, untuk hidup sehari hari. Belum lagi buat kebutuhan anak sekolah dan lainnya.

Kalaupun kulakukan memenuhi hasrat sex dari berbagai pria, harus ada rasa sukaku juga. Meski baru kenal. Tapi ada rasa suka. Kulakukan melayaninya dengan sepenuh hati.

Diantara lelaki pernah tidur denganku. Ada yang serius dan mengajakku menikah. Dia mau  menerima masa laluku. Termasuk menerima kejujuranku, telah tidur melayani banyak lelaki.

Aku bingung dan khawatir kembali terulang perceraian. Aku sudah lelah menikah dan kemudian cerai lagi. Lelah dengan gunjingan lingkungan. Sehingga membuat keluargaku turut terkena getahnya.

Selain itu, ada pikiran khawatir kalau hanya sesaat saja, Setelah puas kembali aku dicampakkan.

Pikiranku bergelayut dengan berbagai sangkaan negatip. Sampai aku bingung sendiri menentukan sikap. Mohon pembaca kisahku dapat memberi saran, ke 085246776009 (watshap).

Diceritakan Santi di Bogor

Leave A Reply

Your email address will not be published.