Jendela Wanita

Aku dijual suami sebagai pelacur

0

Cinta pertama begitu luar biasa.  Sampai logika berpikirku lumpuh total. Begitu sempurnnya Johan dihatiku. Jatuh cinta pada pria lebih tua 5 tahun dariku.

Jofan cinta pertamaku. Ku tak ingin dia dimiliki wanita lain. Diriku begitu takut, jika Ia berpaling dariku. Seakan yang kurasakan saat itu, tidak ada pria lain yang mampu mengubah pandanganku tentangnya.

Ibuku sampai kutentang pendapatnya. Tato ditubuhnya kuanggap hal biasa. Perangai kasarnya kuanggap hal lumrah. Bahkan belum memiliki pekerjaan, buatku nanti juga akan ada jalannya. Apalagi Jofan sedang berusaha.

Bagiku saat itu, ingin segera menikah dengannya. Bukan karena aku hamil duluan, atau telah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah. Namun cinta pertamaku itu, membuat diriku ingin selalu bersamanya.

Cinta pertama membuatku terperangkap pada ego berlebihan. Termasuk melawan ibuku, demi Jofan menjadi suamiku.

Itulah masa kebodohanku akibat cinta pertama. Dan kini menjadi penyesalan panjang, setiap mengenang masa lalu bersamanya.

Tergila-gila

Wajahnya pas-pasan, jika tidak dibilang jelek. Namun diriku melihatnya tampan. Lebih dari itu, dia sayang dan melindungi, itulah mengapa diriku tergila-gila dengannya.

Padahal banyak pria lain suka denganku. Namun tidak membuatku tertarik. Aku lebih memilih Jofan. Sosoknya membuatku sampai begitu rindu teramat sangat, jika sehari tidak berjumpa dengannya.

Kerinduanku pada Jofan, seperti kerinduanku pada sosok ayah. Entah dimana keberadaannya kini. Sejak diriku berusia dua tahun, ibu membawaku pulang ke kampung halamannya di Cilacap. Meninggalkan ayahku di Medan.

Sejak itu, ibu dan ayah tidak lagi berkomunikasi. Ibu hanya bilang saat diriku remaja, kalau ayah sudah meninggal. Meski ucapannya kubenarkan, namun hatiku mengatakan ayah masih hidup.

Dijadikan Pelacur

Menikah dengan Jovan hanya sebulan kukecap kebahagiaan. Meski demikian, Aku tidak mengeluh sebagai istri. Kekurangannya kuanggap takdirku sebagai istrinya.

Apapun perbuatan salahnya, tidak mungkin kulakukan perlawanan. Perlakuan kasar Jofan menjadi caranya menyelesaikan komunikasi. Sudah tidak terhitung berapa kali tubuh ini ditendang olehnya.

Aku tidak sakit hati diperlakukannya seperti itu. Kulalui semua derita dengan suka cita. Dikasari, dipukul sudah hal biasa kualami.

Apalagi setelah Jofan diberhentikan pekerjaan. Perangai kasarnya makin berlebihan. Hanya tangis dalam hati, sebagai caraku meluapkan emosi.

Jofan memang tidak amanah dengan pekerjaannya. Selalu membuat kesalahan, yang membuatnya sering diberhentikan pekerjaan. Sampai-sampai saudaranya pun angkat tangan, saat mempercayakan sebuah usaha dengannya.

Begitu buruk kondisi ekonomi kami. Janin berusia empat bulan yang kukandung meninggal. Namun dua tahun kemudian, kembali Tuhan mempercayakanku melahirkan Rivano dengan selamat. Anak keduaku inilah yang akhirnya menguatkan diriku, memilih cerai dari Jofan.

Aku tidak tahan lagi bersamanya. Sampai harga diriku sebagai istri pun harus tergadai oleh kondisi. Aku didesak Jofan demi uang menjadi pelacur. Dengan ringannya dikatakan Jofan, asal aku tidak main hati dengan pria yang berkencan denganku.

Bimbang antara mantan dan pelanggan

Jofan ulet mencarikan pelanggan untukku. Dia yang mengantarkan aku ke hotel. Lalu menunggu dan membawaku pulang setelah selesai kencan. Seluruh uang diambilnya. Aku hanya diberikan sedikit uang, itupun jika aku minta buat beli beras dan lauk pauknya.

Pekerjaanku di dunia hiburan sebagai teman karaoke, lambat laun menumbuhkan hubungan specialku dengan pelanggan. Dia suka memberikan tips untukku. Sehingga kebutuhan susu Rivano bisa berjalan.

Akhirnya aku bercerai dari Jofan. Bukan karena pelangganku itu. Keberanianku melawan dan membantahnya, membuat Jofan tidak lagi mampu menguasaiku. Selain itu, karena sikap kasarnya berani dilakukan pada ibuku.

Tidak sanggup ku melihat wajah Ibu. Raut wajahnya seolah mencerminkan penderitaan. Gurat garis tuanya makin menguatkan kesedihannya, mengingat tentang perjalanan hidup yang kulalui selama ini dengan Jofan.

Kubesarkan semangat ibu. Sebisa mungkin kuhibur ibu, bahwa diriku kini bahagia. Termasuk keinginanku menikah lagi dengan pelangganku itu.

Hanya saja kini ada kebimbangan. Meski sudah cerai dari Jofan, namun cintaku padanya masih ada. Kecil memang. Tapi perasaan untuk kembali dengannya masih terbuka.

Terlebih Jofan berjanji berubah. Selepas keluar dari penjara, Jofan ingin menata kembali rumahtangga bersamaku dan anak kandungnya. Aku bingung, adakah saran untukku.

Leave A Reply

Your email address will not be published.