Anak bunuh ayah kandung awalnya berkelit pembunuh
Sejak awal polsek duren sawit mencurigai tatapan mata KS (17), saat datang melihat meninggalnya Syafrin, di tempat usaha kelontongnya perabotan (22/6). Namun kejelian polisi akhirnya sang anak kandung, mengakui membunuh ayah kandungnya dengan dua tusukan pisau, kamis malam (21/2)
Jakarta –Polda Metro Jaya berhasil mengungkap KS (17) untuk berterus terang. Meski awalnya KS berkelit dan beralibi bukan sebagai pelakunya.
Drama yang dilakukan KS saat datang melihat Syafrin (55) di toko sekaligus sebagai tempat tinggal sempat berjalan mulus. Terlebih diakui KS, dirinya justru mendengar kabar meninggalnya sang ayah dari temannya sesama pengamen.
Namun ekspresi wajah KS tidak menunjuk ekspresi sedih. Hal ini menjadi pintu pembuka polisi mengungkap pelaku pembunuhnya. Apalagi KS sebagai orang terakhir bersama korban.
Peristiwa meninggalnya Syafrin, berawal dari teman usaha korban yang ingin mengambil tisu di tempat Syafrin. Namun saat melihat toko kelontongnya masih tutup, membuat temannya curiga. Sehingga rolling door toko syafrin yang terkunci oleh gembok di bagian luar di gerinda.
Syafrin ditemukan telah menjadi mayat diatas kasur. Dua luka tusukan di bagian dada terlihat jelas bolong di baju kuning yang dipakai oleh Syafrin.
Syafrin yang baru dua bulan menjalankan usaha perabotan, di Jalan Masjid Baitul Latif RT 01/RW 03, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, masih berktp Pejaten Timur. Selama hidupnya, korban tinggal bersama KS dan anak perempuan lainnya bernama P (16) di tempat usahanya itu. Setelah cerai dari istrinya.
Namun KS jarang tinggal bersama ayah dan adiknya. Hidupnya banyak diluar rumah, sebagai pengamen ondel-ondel di wilayah depok. Dan sering tidur di rumah temannya sesama profesi.
Sikap KS ini sebagai bentuk ‘protes’ dan sakit hatinya diperlakukan tidak baik oleh korban. Tuduhan mencuri uang Syafrin dan dianggap anak haram, membekas dalam pikirannya.
Jam 8 malam (21/6), KS sempat cekcok dengan korban di toko perabotan. Sampai akhirnya saat sang ayah tidur, KS nekad melakukan aksinya. Pisau yang diambil KS dari jualan korban, ditusukkan ke dada Syafrin.
Namun tubuh kurus Syafrin tidak mampu menghadapi KS. Meski Syafrin sempat melawan dan mencakar KS, namun sang anak kembali menusukkan pisau ke dada sang ayah, dan meninggal.
KS mengakui sempat bingung setelah kejadian itu. Saat dilirik suasana diluar toko sepi, KS membawa motor dan handphone milik korban. Anak kedua itu, kabur melarikan diri menuju rumah temannya.