Jendela Wanita

Ingin Poliandri lebih dari dua suami

0

Akupun tidak menyesal menjalaninya. Semua telah terjadi sesuai alur jalan berliku hidupku. Tanpa aku rencanakan, seakan ku anggap menjalani skenario dari Sang Pencipta.

Kalau mau jujur, Aku tidak ingin hidup seperti ini. Membagi waktu antara kedua suami. Suami pertama ada surat nikah denganku dan tinggal berbeda. Sedangkan suami kedua tidak menikah namun hidup serumah denganku.

Masing masing suami memiliki 3 anak dari rahimku. Jadi anakku ada 6 orang dari dua suami.

Lakon 9 Suami

Sebaiknya kuceritakan mulanya aku punya suami kedua. Padahal statusku masih terikat pernikahan dengan suami pertama. Dan anehnya 3 anak dari suami kedua, justru aku rawat dan tinggal di suami pertama. Suami kedua tidak menyoalkan anaknya dirawat di suami pertamaku,

Pasti akan berpikir aneh. Tapi gak ada yang aneh menurutku. Buktinya sampai saat ini, aku masih berdamai dengan suami pertama.

Mungkin boleh dianggap langka terjadi rumahtangga seperti ini. Apalagi suami pertamaku mau terima anak dari suami keduaku, tanpa ada kemarahan. Ibaratnya pasrah saja suami pertamaku.

Sebenarnya semua ini berawal dari kesalahan suami pertamaku. Tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih,  pada perjuanganku sebagai istrinya mencari nafkah buat rumahtangga.

Karena ulah suami pertamaku itulah, malas bekerja dan lebih banyak waktunya dirumah, membuatku menjadi seperti ini. Memiliki 3 kandung anak dari suami kedua, Memiliki kehidupan sendiri tanpa ada larangan atau batasan darinya.

Apalagi kesalahan suami pertamaku doyan selingkuh dan berulang kali selingkuh. Sampai batas kesabaranku habis. Dan mengancamnya berbuat sama. Andai keinginanku bercerai tidak dikabulkannya.

Aku teramat lelah menghadapi suami doyan selingkuh. Mending doyan cari uang. Ini uangnya berasal dari pemberianku, malah digunakan buat senang senang dengan wanita lain.

Sementara aku jungkir balik cari uang. Tidak kenal panas hujan, juga tidak kenal waktu. Sampai aku rela tidur di emperan rumah orang lain, demi jagain daganganku jika ada pembeli tengah malam.

Sampai suatu saat, suami kedua hadir dalam pelukanku. Meski usianya jauh dibawahku, dia menerima ku apa adanya. Suami keduaku itu tadinya suka beli daganganku.

Awalnya pada suami pertama, aku tidak bilang sudah punya suami lagi diluar rumah. Tidak bilang kalau anak yang kulahirkan dari suami kedua. Dan tidak bilang kalau aku sudah satu rumah dengan suami kedua.

Aku beralasan anak yang kubawa ini, merupakan anak dari pelanggan tempat hiburan malam. Sampai kebablasan punya anak dari tamu.

Suami pertamaku percaya dengan alasanku ini. Dan dia tidak bisa protes. Apalagi membatasi pekerjaanku. Sementara hidupnya bergantung denganku. Sampai aku bukakan warung, agar ada tambahan uang buatnya isi dompet.

Begitu juga dengan suami kedua. Juga gak boleh protes tiap hari aku datang ke rumah suami pertama. Apalagi kunjungan hanya sebatas melihat anak-anak. Lalu kembali pulang dan tidur dengan suami kedua.

Sama dengan suami pertama, suami kedua juga tidak ada pekerjaan. Tapi hanya sebatas membantu pekerjaanku. Buka usaha warung makan kecil kecilan.

Ya Tuhan, sampai kapan lakon ini harus berakhir. Sementara desakan begitu kuat untukku punya suami ketiga. Namun nasehat almarhum kakekku membuatku takut. Kalau aku punya suami lebih dari dua, maka akan berakhir lakonku kawin terus sampai memiliki sembilan suami.

Leave A Reply

Your email address will not be published.